Sungai Pedado 2025

DCIM100MEDIAPagi itu dengan semangat yang menggebu, saya menggandeng anak dan istri menuju stasiun kereta super cepat Jakarta-Bandung. Tidak membutuhkan waktu lama, kami tiba di Bandung hanya dalam 30 menit. Waktu yang sangat cepat, mengingat sepuluh tahun yang lalu saya harus rela menempuh perjalanan lebih dari enam jam. Proyek pembangunan kereta cepat Indonesia-China diklaim telah berhasil mengubah wajah transportasi Indonesia saat ini sehingga menjadi yang terbaik di Asia Tenggara.

Saya sengaja datang ke Bandung pagi itu karena ingin memenuhi undangan dari teman lama saya, Wahid, anak Sungai Pedado yang telah saya kenal sejak 2016. Wahid mengundang saya untuk menyaksikan proses wisuda sarjananya.

Jam tangan saya menunjukkan pukul 09.00 WIS (Waktu Indonesia Satu Zona), menandakan acara akan segera dimulai. Acara pun dibuka dengan kata sambutan dari Rektor Institut Teknologi Bandung, kemudian dilanjutkan dengan pidato mahasiswa berprestasi ITB. Dan betapa terkejutnya saya saat itu. Ternyata, nama Wahid lah yang dipanggil. Ia maju dengan gagahnya ke podium. Seketika mata saya berkaca hari itu, betapa haru dan bangganya saya melihat Wahid berhasil meraih predikat wisudawan terbaik. Tidak jauh dari posisi saya, kedua orangtua Wahid pun tak henti-hentinya meneteskan air mata bahagianya. Anak yang dulu lahir dan tumbuh di wilayah tertinggal, kini mampu menjadi lulusan terbaik di universitas nomor satu negeri ini.

15 Maret 2025
Hari ini tepat 11 Tahun RBC berdiri. Wahid dan saya pun memutuskan untuk kembali pulang ke Palembang, untuk mengunjungi kampungnya, Sungai Pedado. Di sepanjang perjalanan, Wahid banyak bercerita tentang teman-temannya dulu. Seperti David yang kini berhasil lulus di STAN dan telah bekerja di Bea Cukai. Syahrul yang berhasil menjuarai perlombaan MTQ International di Dubai. Wahid pun menunjukkan video kemenangan syahrul di tablet hologram terbarunya, hasil menjuarai lomba karya ilmiah tingkat nasional.

Cerita Wahid berhasil membuat saya terkenang aksi-aksi yang dilakukan oleh anak muda di Palembang dulu. Dampaknya sedemikian besar bagi mereka. Ada kerinduan yang membuat saya tidak sabar mengunjungi Sungai Pedado.

Saya pun tiba di terminal 3 Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Saya memutuskan mencoba Light Rapid Trans (LRT) sebagai mode transportasi saya menuju Ampera. Di dalam LRT yang didominasi oleh turis ini, saya menyaksikan pertumbuhan kota Palembang. Pasca Asian Games, Palembang menjadi kota dengan pertumbuhan tertinggi kedua setelah Jakarta. Saya melihat Gramedia World yang semakin megah, Universal Studio, Lego Land, Trans Studio, Palembang International Bird Park, Hutan Wisata Puntikayu yang kini menjadi hutan kota percontohan di Indonesia, hingga Islamic Center terbesar di Sumatera. Hal yang menarik di Palembang saat ini adalah berkurangnya jumlah kendaraan bermotor semenjak pembenahan transportasi publik dicanangkan.

Sesampainya di Hub Utama LRT, saya melanjutkan perjalanan menuju Sungai Pedado menggunakan Trans-Water, mode transportasi air modern dan terintegrasi pertama di Indonesia. Di dalam Trans-Water, saya bertemu William, mahasiswa Unsri yang dulu merupakan siswa di RBC. Kini, ia ditunjuk oleh Dinas
Pariwisata sebagai tour guide turis asing ke Sungai Pedado. Saya memperhatikan aksen Inggris Britishnya yang sangat fasih sekarang. Dia banyak cerita tentang kemajuan Sungai Pedado saat ini dan sejarahnya dalam bahasa Inggris. Dia pun menambahkan bahwa rute Ampera-Sungai Pedado merupakan tujuan wisata nomor satu Trans-Water.

Sungai Pedado kini disulap bak Venesia, Italia. Memasuki muara sungai pedado, saya disambut dengan perahu-perahu kecil yang dipenuhi oleh wisatawan. Berbagai macam makanan khas daerah Palembang pun disajikan sepanjang sungai. Musik-musik Palembang terdengar sangat khas, membuat suasana semakin menenangkan. Saya pun mencoba ke salah satu warung terapung milik warga. Ternyata saya disapa oleh pemiliknya. Wajah saya seakan akrab sekali bagi mereka. “Kak Fadhil!” Sapanya. Ternyata pemilik warung tersebut merupakan orangtua Sultan, siswa yang aktif mengikuti kegiatan di Rumah Belajar Ceria yang pernah saya ajar dulu. Dia banyak cerita tentang anaknya yang kini berhasil meraih beasiswa di SMA Presiden Indonesia.

Setelah saya menyantap sajian khas Sungai Pedado, yakni pindang gabus, sate jamur, nugget jamur dan jus buah Naga yang 100% bahan olahannya berasal dari Sungai Pedado, saya pun melanjutkan ke Modurodam-nya Indonesia. Taman miniatur terkenal di Belanda ini diadaptasi ke Sungai Pedado. Saya melihat miniatur-miniatur kota Indonesia dan dunia yang sangat sempurna mirip aslinya. Taman miniatur ini berhasil menarik kunjungan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Disebelah taman miniatur ini, terdapat juga arena outbond, flying fox hingga bungee jumping yang dipenuhi oleh bule-bule muda. Tidak sampai disitu, saya juga dikejutkan oleh keberadaan Cable Car. Cable car ini membentang sepanjang sungai pedado. Wisatawan dapat melihat keindahan Sungai Pedado dari ketinggian.

Perjalanan saya kemudian terhenti di sebuah rumah. Rumah yang menyimpan banyak kenangan. Rumah yang telah berhasil mencetak generasi emas dari Sungai Pedado. Rumah yang telah mengubah saya menjadi lebih baik. Meski sekarang,saya merasa asing dengan wajah-wajah baru ini, tapi kenangan RBC dulu tidak akan pernah hilang.

Dari kejauhan saya melihat Ketua BPKP Provinsi Sumatera Selatan yang sudah tidak asing lagi, Evan Saputra, penggagas RBC yang tetap menjalin hubungan baik dengan relawan-relawan RBC 2025. Beliau sedang berdiskusi dengan Gubernur Sumatera Selatan, tentang wacana kampung percontohan. Sungai pedado dianggap mampu menjadi contoh bagi kampung tertinggal di Indonesia, khususnya Sumatera Selatan. Hal ini diawali dengan pembangunan smart center sejenis RBC. Dimana anak-anak dibantu melalui pendidikan, dan orangtuanya dibantu melalui perekonomian. Luar biasa gagasan para pemimpin muda ini!

Langit pun semakin gelap, saya memutuskan untuk pulang. Di perjalanan saya pulang, saya melihat angkasa yang dipenuhi dengan lampion terbang menandakan perayaan RBC ke 11. Dari kejauhan saya hanya tersenyum, mengagumi usaha-usaha para relawan hingga Sungai Pedado bisa tumbuh seperti sekarang, sangat maju dan mandiri. Hingga saya menyadari pada satu titik, 2025, Pedado telah Madani.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s