Penguatan Nasionalisme Melalui Pendidikan Moral

DCIM101MEDIA
Rumah Kediaman Ibu Fatmawati, Penjahit Bendera Sang Saka Merah Putih

“Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tetapi jiwaku dilindungi benteng merah putih akan tetap hidup”–Jendral Soedirman

Ungkapan Jenderal Besar Raden Soedirman di atas menegaskan bahwa nasionalisme merupakan harga mati yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia. Nasionalisme juga tercantum dengan jelas dalam pasal 27 UUD 1945. Dengan beragam macam suku dan budaya, sudah sewajarnya setiap warga negara menjunjung tinggi nasionalisme guna mempertahankan semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Semangat nasionalisme harus dipupuk sejak dini. Salah satunya melalui pendidikan moral yang telah dirumuskan dalam Nawa Cita Presiden Jokowi.

Revolusi mental yang digagas dalam Nawa Cita Kabinet Kerja dirumuskan dalam bentuk penataan kembali kurikulum dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme, semangat bela negara dan cinta tanah air, serta budi pekerti. Hal tersebut bertujuan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme para generasi muda. Selain itu, pendidikan moral juga dapat membentengi para siswa dari serbuan budaya luar di era keterbukaan informasi. Sehingga, di tengah kompetisi global seperti sekarang, para generasi muda Indonesia tetap miliki rasa cinta tanah air dan menjunjung tinggi semangat nasionalisme. Mengingat berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2015, separuh dari jumlah penduduk Indonesia didominasi usia produktif dan akan terus tumbuh hingga tahun 2020–2030. Untuk itu, sudah sewajarnya pemerintah senantiasa berinovasi dalam menumbuhkan semangat nasionalisme melalui sektor pendidikan.

Nasionalisme menjunjung nilai-nilai  integritas, kepercayaan, kejujuran, dan cinta tanah air. Semua nilai tersebut, dapat ditumbuhkan melalui pendidikan moral. Pendidikan moral merupakan dasar awal semangat nasionalisme. Inovasi dan gagasan yang telah dilakukan pemerintah dalam mengembangkan pendidikan moral saat ini  tentu perlu dikawal dan dikritisi. Kontroversi kurikulum 2013 dan Full Day School membuktikan keseriusan masyarakat dalam ikut serta mengawal pemerintah dalam menciptakan generasi terdidik dan bermoral. Namun, pendidikan moral bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Orangtua dan lingkungan juga memegang peranan penting. Orangtua harus menumbuhkan lingkungan yang baik di rumah, sebagai sarana pembentukan moral generasi bangsa. Karena pendidikan pertama berasal dari rumah, maka betapa pentingnya peranan orangtua bagi generasi bangsa.

Setiap negara di dunia terbentuk dengan latar belakang yang berbeda. Perancis, Jerman, Italia, Yunani terbentuk karena kesamaan bahasa. Australia terbentuk karena kesamaan wilayah. Jepang terbentuk karena kesamaan budaya. Hal ini berbeda dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, negara ini memiliki latar belakang suku, agama dan budaya yang berbeda. Namun, hanya semangat nasionalisme lah yang membuat negara ini bersatu dan menjunjung tinggi ideologi pancasila.

Jakarta,17 Agustus 2016.

Tulisan ini telah dimuat di selasar.com pada 19 Agustus 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s