Generasi Y Melawan Kekakuan Generasi Middle Man

Perbedaan paradigma antara  dua generasi, generasi Y dan Middle Man, semakin sering kita saksikan saat ini. Lihat saja kontroversi sopir taksi konvensional (Middle Man) dan pengguna taksi online (generasi Y) beberapa waktu lalu. Tidak terbukanya pemikiran para Middle Man terhadap perkembangan zaman merupakan masalah utama yang menyebabkan kesenjangan antara dua generasi ini. Semua sistem konvensional yang dianggap membuang waktu dan kuno oleh generasi Y akan semakin ditinggalkan. Perbedaan paradigma berpikir telah mendesak para Middle Man untuk segera menyesuaikan diri terhadap perubahan zaman.

Saya dan mungkin beberapa pembaca blog ini merupakan generasi Y yang berusia 16–40 tahun, sedangkan atasan kerja dan orang tua saya merupakan generasi Middle Man yang berusia 40 tahun ke atas. Perbedaan ini sangat saya rasakan, terutama dalam cara memandang suatu persoalan. Atasan kerja saya yang didominasi oleh Middle Man (generasi X dan Baby Boomer) memiliki tingkat kekakuan dan kekunoan yang sering tidak sejalan dengan nalar kami (para generasi Y di kantor). Saya pribadi beranggapan, sistem manajemen mereka sangat out of date dan tidak lagi sesuai dengan kebutuhan sekarang.

Mereka selalu ‘mbulet’ dalam menanggapi suatu persoalan, dan selalu menghubung-hubungkan dengan kontribusi yang telah mereka capai selama ini. Solusi mereka kadang bertele-tele, tidak to do point dan kuno. Saya merasakan sendiri karena pernah dipimpin langsung oleh dua pimpinan yang berbeda generasi. Contoh sederhana, dalam mengirim laporan. Treatment pemimpin generasi Y adalah cukup dengan mengirimkan email atau Whatsapp. Sedangkan pemimpin generasi Middle Man, cenderung menggunakan cara konvensional yakni meminta hardcopy. Keuntungannya berada di pimpinan generasi Y, laporan yang saya email atau WA akan cepat ditanggapi dengan solusi yang ringkas dan tidak normatif, dimana pun posisi boss berada. Sedangkan generasi Middle Man, proses surat menyurat akan membutuhkan waktu yang lama, misal disposisi, memo lintas bagian, dan hanya bisa direspon saat boss di dalam ruangan. Dari sisi administratif mungkin diperlukan, tapi jika kita bicara solusi, maka apa yang dilakukan generasi middle man ini telah membuat suatu solusi menjadi tidak efisien, dan pergerakannya sangat lambat.

Ironinya, para Middle Man ini memiliki gadget yang canggih, mereka ingin terkesan IT Minded dengan memiliki gadget tersebut. Tetapi, jika kebiasaan membaca hardcopy saja sulit diubah, kebiasaan surat menyurat konvensional masih sulit digantikan dengan email, atau disposisi masih perlu dilakukan lewat kertas bukan chat. Maka, gadget canggih yang dimiliki hanya berfungsi sebagai suatu gengsi.

Apakah cara kuno generasi Middle Man perlu ditinggalkan? Kita dapat melihat contoh dari dua perusahaan transportasi massal, yakni garuda dan gojek. Garuda yang dikelola oleh middle man berpuluh-puluh tahun serta dibantu dengan anggaran negara memiliki valuasi sebesar 12,3 triliyun. Sedangkan gojek yang dipimpin dan digerakkan oleh para generasi Y telah memiliki valuasi sebesar 17 triliyun. Contoh lain, surat kabar terbesar dan terkemuka di dunia, New York Times, valuasinya sebesar 2,19 Milyar, sangat jauh jika kita bandingkan dengan kedigdayaan Facebook. Facebook memiliki valuasi sebesar 230 milyar, dan digerakkan oleh para generasi Y yang paham akan proses efisiensi yang mengandalkan teknologi.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa teknologi merupakan sebuah solusi. Solusi untuk menggantikan sistem konvensional yang selama ini kita lakukan. Teknologi dapat mentransformasi perusahaan menjadi lebih baik. Untuk itu, sudah sewajarnya jika kita sebagai generasi Y, mampu melawan kekakuan para Middle Man ini. Kita harus memberikan masukan dan solusi yang lebih baik, karena pemahaman akan dunia digital dan teknologi sudah kita kuasai. Suatu saat nanti, sistem konvensional yang masih digunakan oleh para middle man, lambat laun akan terlihat kuno dan mati dengan sendirinya. Itulah masa dimana bonus demografi Indonesia sudah dirasakan, dimana anak muda yang produktif dan berwawasan teknologi informasi akan mendominasi dan memimpin Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s