Apa Tujuan Hidup?

Beberapa hari yang lalu, saya dikejutkan dengan pembahasan kasus bunuh diri di salah satu grup penerima beasiswa. Hal ini memancing pembahasan serius. Banyak yang beranggapan bahwa kasus seperti ini sangat dekat menghampiri mereka selama menempuh studi. Bahkan, salah seorang anggota menceritakan bagaimana polisi Belgia berhasil menyelamatkannya dari percobaan bunuh diri karena  terancam gagal tidak mendapatkan gelar.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh National Union of Students (NUS) pada Desember 2015, bahwa 1/3 dari mahasiswa yang menjadi populasi penelitian mengaku pernah berpikir untuk bunuh diri. Selain itu, pada tahun 2014, Kantor Statistik Nasional Inggris melaporkan ada 130 kasus mahasiswa bunuh diri di Inggris dan Wales (sumber : metro.co.uk). Data tersebut menunjukan bahwa kasus bunuh diri rentan menyerang siapa pun. Mereka kehilangan motivasi untuk hidup. Tidak memiliki satu pun alasan untuk menjalani kehidupan

Banyak sekali  buku self improvement atau motivator kehidupan yang mengajarkan kita tentang tujuan hidup. Semua ini sangat berguna untuk kehidupan kita dan mengandung nilai-nilai yang sangat baik. Tapi, sadarkah kita sebagus apapun buku atau secakap apapun motivasi kehidupan, semua itu hanyalah buah pemikiran dari sosok manusia biasa.

Silakan buka kembali kitab suci, temukan makna kehidupan yang difirmankan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kita akan menemukan tujuan manusia diciptakan. Tujuan yang sering sekali dibelokan oleh harta dan kekuasaan. Tujuan kita hidup adalah untuk Ibadah. Tidak ada kompromi untuk itu. Menjadi bahagia atau bermanfaat atau ingin mempunyai rumah, mobil, ingin kuliah di luar negeri, semua harus bermuara pada satu tujuan, yakni ibadah. Menjadi dokter, membuka bisnis, sekolah setinggi-tingginya itu bukan tujuan. Semua itu hanya tools, alat untuk mencapai tujuan utama, yakni ibadah.

life-goal

Tanpa disadari, kita sering melupakan tujuan utama, seperti sholat, berbicara dengan orangtua, mendidik anak, dll. Kita terlalu fokus dengan productivity. Kita lupa bahwa productivity hanyalah supporter, bukan pemain utama.

Adakah orang yang bunuh diri karena tidak pernah sholat atau berpuasa? Bandingkan dengan kasus bunuh diri orang-orang yang gagal lulus kuliah, gagal jadi anggota dpr, polisi, dll?

Maka silakan isi template diatas. Kita mulai belajar untuk membedakan tujuan utama dan alat produktivitas. Jika kita menggunakan template sederhana ini, meskipun kita gagal sekolah, gagal bekerja sesuai impian kita, maka kita tidak akan rapuh. Karena tujuan kita jelas, yakni ibadah, ibadah diri dengan Tuhan dan sesama makhluk.

Sungguh lebih baik seseorang depresi karena gagal beribadah dengan Tuhan, karena tidak bisa membangun hubungan keluarga yang baik, atau tidak bisa memberi makan orang lain, dibanding gagal mendapatkan tools productivity. Mari maknai kembali tujuan hidup. Kita pisahkan tujuan dan alat produktivitas. Ini akan membuat kita kembali lurus. Mengetahui fitrah diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s